Terlahir dengan nama Sunandar, orang-orang lebih mengenalnya dengan panggilan Baco. Entah bagaimana gelar itu bisa melekat padanya. Yang pasti, tangan Tuhan seperti membelainya dengan cara yang berbeda. Pun ia menghamba dengan cara yang tak dapat dikira-duga.

Menginjak usia yang ke-52 tahun, anak kedua dari enam bersaudara ini rasanya telah dapat memetik apa yang dulu ditanamnya dengan susah payah. Mestinya, dia dapat lebih menikmati hidup di usia yang sudah setengah abad lebih ini.

Pak Sunandar

Bagaimana tidak, tatkala orang-orang berlomba-lomba untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, Baco muda harus rela mencukupkan pendidikannya hanya sampai jenjang SMA. Alasannya mungkin terdengar simpel dan ironis, Sang Bapak yang seorang tentara tengah fokus mengurus anak lelakinya yang kedua untuk merintis karier yang sama.

Baco seolah terabaikan. Namun, baginya tak jadi soal. Sebagai kakak kedua, dia merasa harus turut memikirkan pendidikan adik-adiknya. Jadilah hingga kini ia hanya memegang ijazah SMA, meski cita-cita adik lelakinya pun tak kesampaian menjadi tentara.

Tak melanjutkan pendidikan, Baco muda akhirnya memilih jalannya sendiri. Dia mulai mengembangkan sayap pergaulannya, mengerjakan apa yang ia bisa, ikut “juragan-juragan” kampung agar hidupnya tidak melulu bergantung pada orang tua.

Siapa nyana, pergaulan itu mengajarkannya cara berbisnis yang lihai dibanding orang-orang sepantarannya. Pada usia 27 tahun, Baco berhasil menjajal bisnis jual-beli tanah, pengerukan tanah, hingga penyewaan alat-alat berat.

Perputaran Roda Kehidupan

Baco telah menjadi pebisnis tersohor di kampungnya, bahkan hingga kini keberhasilannya pada masa itu masih kerap menjadi buah bibir. Sebab, keberhasilannya itu turut dicicipi oleh orang-orang sekitar.

Namun sayang, keberhasilan bisnisnya tidak berbanding lurus dengan kehidupan rumah tangganya. Baco harus diterpa dua kali gagal membangun bahtera rumah tangga. Dua kali menikah dan gagal di tengah jalan, Baco dikarunai dua anak dari istri yang berbeda.

sumber: hardrockfm.com

Roda berputar. Kegagalan rumah tangga yang kedua ini beiringan dengan mulai runtuhnya bisnis yang dibangun Baco dengan susah payah. Sekelebat, aset-aset yang dimiliki Baco mulai lenyap satu per satu, termasuk rumah yang dibangunnya dengan material pilihan. Hilang sudah hidup mewah, namun tetap megah dalam sejarah.

Baco berada di titik nadir. Kendati demikian, tanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup dua anaknya tak pernah tak hadir. Satu yang pasti, kedua anaknya harus mengenyam pendidikan yang layak. Ia tak segan gali lubang tutup lubang demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Menginjak tahun 2016 bisa jadi tahun yang begitu berat bagi Baco. Tatkala tak ada pemasukan sama sekali, putri sulungnya harus menyelesaikan tugas akhir kuliah dengan berbagai kebutuhan yang tidak sedikit menguras kantong.

Dengan mata khas sendu dan selalu basah, Baco berkeluh kesah. Dengan guratan wajah yang kian menua, terlihat betul ia gembira sekaligus gulana. Di satu sisi, dia senang membayangkan putri sulungnya akan segera menyelesaikan kuliah, di sisi lain dia tak punya cadangan dana untuk mengantarkan syarat kelulusan putrinya.

Tuhan kembali hadir dengan cara yang tak biasa. Baco berhasil melewati ujian ini hingga putri sulungnya berhasil memakai toga. “Lunas” menyekolahkan si sulung, Baco tinggal memikirkan si bungsu yang bakal menginjak bangku SMA.

Seiring dengan itu, Baco mulai memberanikan diri untuk kembali terlibat ke bisnis jual-beli tanah secara perlahan. Kebutuhan mendesak orang-orang yang memiliki aset tanah adalah peluang bagi Baco untuk dapat mengumpulkan pundi-pundi.

Seolah mengumpulkan apa yang terserak, dari pundi-pundi itu Baco kembali membangun rumah tempatnya berkumpul bersama kedua anaknya. Meski tak lancar sekali jadi, hunian impian itu toh selesai juga. Bagi sebagian orang, mungkin hal ini biasa, tapi tidak baginya.

Sebab, di titik ini, Baco pantas bersuka. Mendekati rumah yang siap untuk ditempati, putri sulungnya diterima sebagai abdi negara, sedangkan putra bungsunya lulus SMA pun telah berpenghasilan sendiri.

Buah Manis Dari #AwaliDenganKebaikan

Kisah perjalanan hidup Sunandar alias Baco jelas merupakan buah dari sikap #AwaliDenganKebaikan yang dilakukannya dengan ikhlas. Kebaikan yang ditanamnya dari muda hingga tetap bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup anaknya dengan segala cara kini telah membuahkan hasil.

Kebaikan ini tentunya perlu untuk tetap terus dijaga. Salah satunya adalah dengan cara melindungi diri dan keluarga dari berbagai risiko penyakit hingga kematian. Proteksi diri dan keluarga ini bisa didapatkan dengan memiliki Produk Asuransi Syariah dari Allianz.

Dengan memiliki polis Produk Asuransi Syariah dari Allianz, manfaatnya tidak hanya dapat dirasakan oleh diri dan keluarga, tetapi juga oleh orang yang membutuhkan. Sebab, melalui produk asuransi ini, Allianz mengembangkan program sosial lewat fitur wakaf. Program sosial ini didukung oleh sebagian dana yang dibayarkan nasabah untuk Produk Asuransi Syariah dari Allianz.

Jadi, dengan membeli produk asuransi dari Allianz ini, kebaikan telah tertanam untuk diri sendiri, keluaga, hingga orang yang membutuhkan.

#AwaliDenganKebaikan merupakan sebuah program dari  perusahaan asuransi syariah Indonesia, Allianz. Dimana kita harus menceritakan seorang sosok yang sangat inspiratif dan layak untuk mendapatkan hadiah umroh gratis. Yuk terus sebarkan kebaikan!

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *